Bagaimana Nasib Rupiah di Tengah Perseteruan AS-Tiongkok?



Foto


Situasi ekonomi global saat ini masih memanas. Hal ini disebabkan oleh perang dagang antara negara adikuasa Amerika Serikat dan pesaingnya, Tiongkok telah berubah menjadi perang mata uang. Perang mata uang ini tampak semakin meningkat dan merembes ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Negara kita diingatkan oleh para pakar dan analis ekonomi untuk bersiap atas kemungkinan depresiasi mata uang.

Saat ini rupiah diperdagangkan pada level 14.300 terhadap greenback, setelah turun 0,7 persen minggu berjalan seiring kenaikan harga antara mata uang AS dan China.



Foto

Tiongkok secara tegas telah mengumumkan akan menghentikan impor produk pertanian dari negara rivalnya, AS sampai waktu yang tidak ditentukan. Keputusan ekstrem ini diambil pemimpin Tiongkok setelah Presiden Donald Trump mengatakan akan mengenakan tarif tambahan pada barang impor dari Tiongkok senilai $ 300 miliar.

Sementara itu, mata uang Yuan diperdagangkan di bawah 7 per dolar AS untuk pertama kalinya sejak tahun 2008 silam. Atas kondisi ini Departemen Keuangan AS pun menyebut pemerintah Tiongkok sebagai "manipulator mata uang".

Sejak 2008, yuan telah menjadi jangkar mata uang negara-negara berkembang. Pelemahan yuan harus diawasi dengan ketat karena bisa menyeret rupiah ke bawah, kata Kepala Ekonom Bank CIMB Niaga, Adrian Panggabean.



Foto


Dia menilai, pelaku pasar harus tetap waspada selama sisa minggu ini karena volatilitas diperkirakan akan tetap. Ia juga menambahkan, adanya arus keluar di pasar ekuitas Indonesia dan perlambatan aliran masuk di pasar obligasi.

Begitupun, katanya, Ia berharap tidak ada pembalikan. Dari sudut pandang mata uang dan penilaian, sebutnya, aset pasar Indonesia masih sangat menarik secara regional dan global. Bahkan, kata Dia, pasar telah memberi harga pada pertumbuhan kuartal kedua Indonesia yang mengecewakan. Yang tidak diharapkan pasar adalah situasi global.



Foto


Indeks komposit Jakarta ditutup 0,9 persen lebih rendah pada hari Selasa kemarin. Hal ini memperpanjang kerugian sejak hari Jumat. Investor asing menjual saham senilai Rp2,2 triliun ($ 154 juta) lebih banyak daripada yang mereka beli.

Sementara itu, pemerintah akan menunggu dan melihat sejauh mana rupiah akan berfluktuasi. Kami mengikuti pengembangan tersebut, kami sedang melakukan perhitungan tetapi kami belum mau berkomentar tentang itu, kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution.



Foto


@zainalbakri

image

BZB.gif

telor.gif


Comments 0