Curhatan Hati


20210214_175158.jpgOriginal photo by me.®

Aku enggan menulis.
Namun pikiranku tak mau berhenti bicara.
Mulai dari sejumlah pertanyaan, hingga monolog yang kuberikan kepada diriku sendiri.
Atas sesuatu.
Tentang sesuatu.

Pagi ini, hari terasa indah untuk sebagian orang.
Bagiku, justru sebaliknya.
Ada kegelisahan yang ingin kutanyakan kepada Tuhan.
Meski aku tahu, jawaban itu akan datang pada waktu yang telah Ia tentukan.
Bukan pada saat yang paling kita inginkan.

Aku tahu, terkadang Tuhan menjawab doa-doa lewat orang-orang di sekitar kita.
Ia tak berdialog begitu saja.
Ia ingin kita belajar dan merasa lebih dalam.
Ia ingin kita mencari tahu.

Namun, bukankah terkadang ada lelah yang ingin kita tangguhkan.
Ada beban yang tak ingin kita sandang di bahu.
Bukan karena tak ingin.
Hanya karena kita manusia.
Ketabahan kita tak seperti malaikat yang utuh sepanjang masa.

Kita hanyalah manusia...


Pagi ini tak bernama.
Hari juga tak perlu diberi judul.
Bukankah tujuan kita sudah jelas?
Kamu adalah tempat aku akan kembali ketika petang.
Dan aku adalah satu-satunya tamu untuk kamu beri peluk terhangat.

Di sebagian hari ini, bagaimana kalau kita bermain peran?'
Aku adalah takdir, dan kamu adalah doa yang kupanjatkan di sepanjang jalan.
Karena hanya dua hal itu yang tak mampu ditolak manusia.
Doaku, kamu menjadi bagian dari takdirku.

Sesekali, bolehlah kita bingung tentang alasan.
Karena cinta kadang bisa dijelaskan, kadang tidak.
Mencintaimu pun demikian.
Bagaimana menggambarkan sebuah keinginan yang tak pernah pudar?
Tak akan seperti itu.
Tak pernah begitu.

Jadi lebih baik, kita bersyukur saja.
Sebaik-baiknya manusia adalah yang menjaga kebaikan akan karunia Tuhan-nya.
Menjaga cinta sebaik-baiknya.
Menjagamu sebenar-benarnya.
Takdirmu itu doaku.
Tak perlu lah kutulis lagi.
Cinta kita sudah benar...


Ini curhat nyeleneh...
Sebuah curhat tentang cinta yang sudah tua.
Karena kamu sudah menciptakan banyak kenangan baru.
Sedangkan kenanganku masih itu-itu saja.

Apa sebutan bagi orang yang tak pernah benar-benar bisa melepaskan masa lalunya?
Gagal move on?
Ah, tak pernah ada yang benar-benar berhasil di dunia ini.
Mereka yang menggenggam hari baru, sesungguhnya tak betul-betul sukses melupakan, tapi hanya mengendapkan perasaan.

Anggap saja ini nostalgia.
Nostalgia yang menghadirkan romansa.
Namun kamu terdiam dalam jutaan harap serupa gemintang.
Membuat hatiku ciut.
Jangan-jangan malamku akan selalu sama.
Ditelan sedih lagi.
Diakhiri mimpi lagi.

Aku ini... bisa jadi hanyalah bintang jatuh.
Diucap bagai doa, tapi tak pernah jadi siapa-siapa.
Dan kamu itu apa ya?
Oh! Kotak mimpi tempat aku menaruh ingin.
Bukankah untuk menggapai sesuatu yang tinggi, seringkali kita diajarkan bermimpi?
Karena mimpi adalah sebebas-bebasnya harap boleh tercipta.
Kita tak perlu berhutang.
Termasuk pada kesempatan.
Termasuk pada keinginan.

Masih saja curhat ini nyeleneh...
Ada istilah the best ever.
Cinta pun begitu.
Tapi... the best part of falling in love is... loving the right person.
Orang yang tepat belum tentu orang yang paling kita inginkan.
Jadi, meskipun kenanganku masih itu-itu saja.
Dan cinta ini sudah tua.
Hatiku belajar untuk jadi muda lagi.

Kamu, tak perlu lagi mengurung aku dalam tatapan yang penuh harap itu.
Malam tak lagi bertahan selamanya.
Aku adalah pagi kini. Menciptakan harapan sendiri.
Tak perlu menanti. Bisa jadi malah dinanti.

Kalau kamu datang lagi.
Kutepuk sisi bangku kayu di sebelahku.
Sini, kita boleh duduk sama-sama.
Kuceritakan kenanganku bersamamu.
Nostalgia boleh berubah jadi romansa.
Tapi jatuhku, tak akan lagi padamu...

Penulis @walad



Comments 0