UDAH GILA, KURASA.


IMG_20210505_054625.jpg

" Saya masih toleran kalau manusia minus (hard) kompetensi (skill, knowledge, etc)."

" Namun saya tidak bisa membayangkan apa jadinya dunia jika seseorang minus kompetensi HATI (tidak peduli, egois, rakus, manipulatif, koruptif, etc)."

Bagaimana caranya memaklumi kondisi dan/atau perilaku yang koruptif?

Berikut puisi spontan saya

SEBUAH CATATAN PENYAIR

@vandols

Sehabis menulis riwayat hidup koruptor.
Huruf-huruf menjelma menjadi kunang-kunang
yang berkelebat di rongga mata
seketika nalar terasa makin tumpul.
Pengertian kabur dan perasaan menjadi terasing dalam kegaduhan gosip tanpa nama.

Orang-orang bergerombol tengadah ke langit
“Tinggal nasib atau wangsit yang tersisa,” kata paranormal
“Kebenaran mungkin relatif,” pemabuk terus mengigau di warung,

deretan kaleng draft beer siap menggelontor tenggorokan dan kesia-siaan.
Udara pengap dan kotor membuat paru-paru keropos.
Keluyuran menghabisi malam bertemu preman dan kenyataan yang muskil diterangkan
“Bagaimana merumuskan lapar tanpa kerja?” Penganggur meratap sambil mengangankan mukjijat
bagaimana mengirimkan tangisan lewat surat atau doa ke sorga?
Alamat terakhir bagi kelompok terlunta atau renta
“Di sini, dalam penjara waktu, ada kebahagiaan dalam keterbatasan,” kotbah ustadz di hari jumat
Anak-anak menjerit dan bergulingan.

Sehabis menulis riwayat hidup koruptor.
Otak dijejali tanda tanya;
"Bagaimana atau kapan memberitakan luka dengan bijaksana?"

Aceh, Mei 2021

20210505_015725_0000.png


Comments 0