Review Poetry : ISYARAT


irfanmdolesa_20200917_5.png
poetry is always there to keep us connected to the mind.

Salam sejahtera, semuanya.
Kali ini saya akan kembali mengulas satu puisi yang baru saja termaktub' kedalam diary saya.

Hari ini saya menulis puisi semangat penemuan diri yang lirih, berkata pada diri dengan pasrah namun tetap memelihara harapan.
Penemuan diri sebagai perjalanan ke dalam, dilawankan dengan perjuangan di tengah kehidupan yang mengarah ke luar diri. Keduanya saling bertentangan, namun puisi saya kali ini hendak menyatukannya.

Walaupun tak ada deskripsi atas realitas kehidupan yang menekan saya, namun terasa ada beban berat kehidupan yang saya rasakan.

Saya memang tak sejumawa Chairil Anwar yang menjelmakan diri “binatang jalang” yang menerjang, yang dikendarai mau sampai tak seorang pun dapat merayu mau untuk malu atau tak mau.

Di puisi ini saya menganggap diri sebagai daun,

IMG20200603183658.jpg

hidup adalah tarian dedaunan itu:
Aku adalah dedaun,
asyik masyuk menari
Sesungguhnya bukan karena reranting,
bukan pula gemulainya
Tapi dicandai angin sembunyi yang tak mau menampakan diri

(“ISYARAT”)

20210326_132320_0000.png

“Angin sembunyi” itu sepadan dengan kata ruh atau rih yang berarti “angin lembut”. Angin sebenarnya memang selalu sembunyi, karena angin tak dapat terlihat kecuali lewat gerak ilalang atau tarian dedaunan. Sebaliknya, demikian simpul-ku, dedaunan tak dapat asyik masyuk dengan tetarian bila tak tersebab "angin" itu.

Puisi, kemudian menjembatani semua kemungkinan, untuk menghadiri
“raksasa materi yang entah ini”.
Di sini kita dapat katakan; “puisi masih ada” yang membuat kita tetap tersambung dengan yang masih mungkin itu.

Sehingga “raksasa yang entah itu” dapat tetap ditanggapi dengan lirih.

Salam,
Vandols.


Comments 0