The Diary Game, Selasa 22 September 2020 (Menginginkan)


20200820_181851-01-01-01.jpeg

Pagi-pagi sekali, alunan merdu sang ayam jago membangunkan ku dari tidur yang pulas, ku buka mata ku lihat sekeliling, mereka anak-anak ku masih tidur begitu lelap dengan gaya mereka masing-masing. Ku angkat badan dengan perlahan, ku sandarkan sebentar badanku di tepian kasur, tidak lama sekitar tiga menit ku ayunkan langkah kaki ku dengan perlahan, ku tuju kamar mandi, segera ku basuh muka berulang kali, dan tentu tidak lupa pada tujuan utama ku berwudhu untuk menunaikan kewajiban ku sebagai seorang muslim, 2 rakaat shalat subuh tuntas sudah ku selesaikan.

Cuaca sangat dingin sekali, malas sekali rasanyan ku langkahkan kaki ke dunia ibu rumah tangga, apalagi kalau bukan dapur (bukan dapur umum), akhirnya ku tarik selimut ke rebahkan kembali badan ku yang berlumpur rasa malas.

Jam 67.30 putra-putri dunia akhirat ku terbangun dan tentulah dari masing-masing mereka segera ku mandikan, kelekatkan pada mereka pakaian dengan lengan panjang, tepatnya baju piyama agar tubuh kecilnya tidak di sapa manja dengan hawa dingin dari sang hujan yang datang bertandang.

Langkah kaki yang beralas sandal jepit putih kembali ku ayun ke dapur, ku buka tudung saji, Ya Allah (ucap ku) tidak ada makanan apapun (ialah kan akunya belum masak apapun sejak bangun tidur tadi), karena hanya ada udang, jadilah ku buat asam udang "makanan khas Aceh", lauk seserhana tapi sangat menggugah selera. Tidak butuh waktu lama untuk membuat asam udang tersebut, setelah siap untuk di sajikan, saya dan suami segera menyantapnya bersama sambil menyuapi anak-anak.

20200923_102942.jpg
Sambal asam udang

Siang hari menjelang anak-anak tidur, ku mulai menyiapkan bumbu khusus untuk membuat asam keueung "makanan khas Aceh", salah satu menu spesial yang harus selalu ada untuk ayah saya tercinta. Setelah menyelesaikan kewajiban saya di dapur, adzan zuhur berkumandang, tandanya saya harus segera menunaikan shalat zuhur.

Namun sebelumnya, ku tidurkan anak-anak, barulah kemudian ku tuntaskan empat rakaat shalat zuhur yang sama sekali tidak boleh untuk ku abaikan. Setelah selesai, rasanya menikmati rujak Kak Kamariah sangat pas sekali, seketika liur ku pun seperti akan menetes, ku ajak sepupu untuk segera membelinya, dengan harga Rp.10,000 rujak buatan Kak Kamariah yang terletak di Jl. Ahmad Kandang ku bawa pulang dan ku santap dengan sedikit sisa di bungkusannya.

20200923_141056.jpg
Rujak buatan Kak Kamariah

Istirahat siang bersama anak-anak sepertinya bisa menjadi pilihan tepat, tidak menunggu lama, ku rebahkan segera badan ku yang terasa lelah sekali. Dan menjelang jam 4 sore, anak-anak masih tidur sedangkan aku sudah siap untuk menunaikan shalat asar, tiba-tiba dari luar terdengar suara anak tetangga memanggil-manggil Muhammad Al Fatih, aku segera berlarian pelan keluar rumah agar anak-anak tidak terbangun, dan ternyata anak tetangga tersebut mengantar makanan berupa mie dan makanan ringan dari acara ulang tahun kecil-kecilan di rumah mereka.

20200923_154536.jpg
Makanan hantaran anak tetangga

Dan sore hari, ketika anak-sudah bangun serta siap dengan pakaian sorenya, kami menghabiskan waktu dengan berkumpul bersama di pondok rumah.

Salam hangat dari saya @tiazakaria , info bio klik di SINI

Comments 1


Postingan ini telah dihargai oleh akun kurasi @steemcurator08 dengan dukungan dari Proyek Kurasi Komunitas Steem.

Selalu ikuti @steemitblog untuk mendapatkan info terbaru.

Salam @ernaerningsih

23.09.2020 14:01
0