The Diary Game, Rabu 16 September 2020 ( Lagi-Lagi Rujak)


20200820_181851-01-01-01.jpeg

Bukan suara kokok sang jago ayam, bukan pula suara deringan alarm yang membuat mata saya terbuka pagi ini, denyutan gusi gerahamlah yang pagi-pagi buta sudah bertenaga dan semangat membuyarkan mimpi-mimpi indah yang sejak semalam menyelimuti tidur saya.

Dengan langkah pelan, sambil mengucek mata saya menuju kamar mandi, saya membasuh muka, menyikat gigi dan tentunya berwudhu untuk menunaikan shalat subuh, setelah menyelesaikan kewajiban saya sebagai seorang muslim, saya menuju ke dapur, wastafel (tempat cuci piring) adalah sasaran utama saya setiap paginya, hanya ada tiga botol susu dan dua piring kotor di sana, tanpa menggunakan celemek saya mulai membereskan isi wastafel.

Setelah selesai bergelut dengan botol susu dan piring kotor, saya melirik ke sisi kanan, tepatnya di atas kompor hitam dua tungku, sebuah wajan hitam mengkilap terdiam manis dengan penutup piring hijau yang menutupi wajan tersebut, saya mendekati dan membukanya, tampaklah nasi goreng merah dengan campuran telur orak-arik dan juga kacang merah, ini buatan ibu begitu gumam saya dalam hati.

Saya meninggalkannya begitu saja, tanpa menyisihkannya ke tempat lain, apalagi menyicipinya, bukan tidak lapar, tapi saat ini saya hanya ingin menikmati sesuatu yang lembut, mengapa? Ya karena gusi ini terlalu menyiksa saya pagi ini. Saya gerakkan ayunan langkah menuju kulkas, ada roti tawar di sana, pas sekali, ini yang akan menjadi sarapan saya pagi ini, sepotong saja untuk mengganjal perut sebelum meminum obat anti nyerinya.

Setelah selesai menikmati sepotong roti dengan selainya, saya menuju sebuah meja yang terletak di ruang keluarga, untuk apa? Untuk mengambil pil anti nyeri yang bisa mengatasi keluhan saya beberapa hari ini, ya gusi bekas mencabut gigi geraham masih berdenyut sampai hari ini.

Anak-anak masih tidur, saya meninggalkan mereka sejenak untuk pergi ke rumah saya yang letaknya di area persawahan, saya pergi dengan mengendarai sepeda motor, saya ke sana hanya untuk mematikan lampu yang setiap sorenya suami saya nyalakan agar rumah tidak gelap gulita.

PicsArt_09-17-08.27.58.jpg
Jl. Puuk salah satu jalan yang saya lewati untuk sampai ke rumah

Sepulangnya saya ke rumah orang tua (tempat tinggal saya saat ini), saya mendapati anak-anak di teras rumah, dengan diaper (pampers) dan singlet di tubuh mereka, saya menyapa mereka dengan senyuman kecil.

Karena anak-anak sudah bangun, sudah waktunya untuk saya beraksi, tidak ada yang berbeda dari hari-hari biasanya, aktifitasnya mulai dari memandikan anak-anak, memakaikan pakaian, menyuapi makan menemani mereka bermain sampai akhirnya tiba waktu untuk mereka tidur siang.

Begitupun saya, setelah menyelesaikan makan siang serta kewajiban dengan Sang Pencipta, kasur empuk dan guling adalah sasaran yang selalu saya rindukan, bisa merasakan tidur siang adalah sesuatu yang sangat berharga untuk setiap ibu rumah tangga.

saya dan anak-anak bangun dari tidur siang ketika azan asar berkumandang, sebelum shalat asar terlebih dahulu saya menyiapkan anak-anak, apalagi kalau bukan memandikan mereka, memakaikan mereka pakaian, kemudian membiarkan mereka bermain di ruang keluarga sambil menikmati camilannya.

Saat merasa anak-anak aman untuk di tinggal, saya secepat kilat bergegas mandi, dan juga menunaikan shalat asar, setelah selesai shalat dan saya keluar ke tempat anak-anak, suami saya sudah berada di sana sedang menyusun lego untuk Muhammad Al Fatih, sontak ketika Muhammad Al Fatih melihat saya, dia minta keluar ke halaman depan untuk bermain sepeda, saya mengiringi langkahnya duduk di bangku teras melihatnya bermain sepeda.

20200916_174832-01.jpeg
Muhammad Al Fatih sedang bermain sepeda

Ketika sedang asik-asiknya putra saya bermain sepeda, dari arah pintu pagar tampak ibu saya berhenti dan membunyikan klakson sepeda motornya untuk menggoda Muhammad Al Fatih cucunya, tanpa menunggu lama putra saya Muhammad Al Fatih meninggalkan sepedanya begitu saya dan berlarian ke arah maminya.

Ibu yang baru pulang dari kantor membawa pulang beberapa kantong kresek berisi makanan, saya melihat di salah satu kantong kresek itu berisi tiga bungkus rujak, lagi-lagi ibu membeli rujak Kak Kamariah yang terletak di Jl. Ahmad Kandang, Kota Lhokseumawe. saya mengambil dan menyantapnya di luar sedangkan ibu saya dan cucunya sedang bercerita di pondok


Comments 1


Postingan ini telah dihargai oleh akun kurasi @steemcurator08 dengan dukungan dari Proyek Kurasi Komunitas Steem.

Selalu ikuti @steemitblog untuk mendapatkan info terbaru.

Salam @ernaerningsih

17.09.2020 03:16
0