The Diary Game, Kamis 17 September 2020 (Yang Tidak Di Undang)


20200820_181851-01-01-01.jpeg

Pagi yang cerah di sambut suara kokok sang jago ayam secara sahut menyahut membangunkan saya dari tidur yang tidak begitu lelap, tidak menunggu lama, kamar mandi adalah sasaran utama setiap kali mata saya terbuka di pagi hari, saya membersihkan diri dan berwudhu untuk menunaikan shalat subuh di atas sajadah yang sudah saya gelar sebelum menunju kamar mandi.

Tidak ada kegiatan apapun di dapur pagi ini, karena itu menghabiskan waktu di atas sajadah kesayangan berwarna ungu dengan motif ka'bah baitullah rasanya lebih baik pagi ini. 20 menit berlalu, saya gantung seperangkat alat shalat yang sudah saya lipat dengan rapi versi saya sendiri.

Dengan langkah santai saya menuju teras rumah bagian depan, rencana untuk duduk santai saya urungkan karena melihat banyaknya dedaunan kering berguguran berserak di halaman yang membuat rusak pemandangan. Halaman yang tidak begitu luas tentu tidak menyita banyak waktu untuk saya bersihkan (meski dalam sesaat daun lain ikut berguguran).

Meski demikian, bulir keringat tetap menetes dari rambut halus bagian depan yang tertutupi hijab hitam hadiah dari ibu, begitupun di punggung, bulir keringat terasa mengalir beberapa kali hingga membuat saya menyentuhnya, dan benar saja, baju piyama saya sedikit basah di bagian belakang.

Pondok kecil buatan ayah adalah tempat ternyaman untuk istirahat sekalian mengeringkan anakan rambut dan punggung yang lembab berkeringat.
Sudah hampir jam 07.00 pagi, sudah waktunya mengisi energi, nasi gurih dengan telur bulat sambal yang di belikan suami menjadi pilihan saya pagi ini, ini nasi gurih rasanya enak sekali, aromanya juga wangi, dan yang paling penting harganya sangat merakyat, perbungkusnya hanya di banderol dengan harga Rp.8000.

20200917_071821-01.jpeg
Nasi gurih untuk sarapan pagi ini

Selesai menyantap nasi gurih hingga bersih tersisa bungkusannya, saya kembali ke kamar, menyiapkan beberapa keperluan suami yang akan segera berangkat kerja, hari ini beliau ke Idi, Aceh Timur (lebih kurang 2 jam perjalanan dari Kandang Kota Lhokseumawe) untuk menghadiri pelatihan di kawasan tempat beliau mencari nafkah untuk kami keluarga kecil dunia akhiratnya "Insha Allah, Aamiin" (Bantu Aamiinkan ya teman-teman 😊)

Mengantarnya (suami) sampai pintu rumah bagian depan sudah menjadi kebiasaan saya dan anak-anak, namun pagi ini anak-anak masih tidur, sehingga hanya saya yang menemaninya memakai sepatu favorit rampasan dari pamannya yang tinggal di Ibu Kota Jakarta, sampai akhirnya beliau pergi untuk mengemban tanggung jawabnya.

Selepas suami berangkat kerja, di jam 7.38 menit, saya masih duduk di teras, di bangku kayu dengan dudukannya yang sudah bolong patah, seekor kucing kampung memeong-meong, dia yang tidak pernah di undang namun manjanya sungguh tidak karuan, tidak pernah di anggap keluarga namun dia seakan menganggap kami saudara, sering keluar tanpa izin dan pulang-pulang sudah bunting, kelakukaannya benar-benar seperti seeokor kucing, ya memanglah seekor kucing.

Sedari sya dan suami menyantap sarapan dia sudah minta jatah, akhirnya saya memberinya makan berupa nasi kering campur ikan (hanya itu saja yang mudah) tapi si kucing berbulu orange melahapnya tanpa terima kasih, yah Alhamdulillah.

20200917_073644-01.jpeg
Kucing kampung yang tidak pernah di undang

Setelahnya, saya menghabiskan waktu mengurus anak-anak, apalagi kalau bukan memenuhi setiap kebutuhan harian mereka, menemani mereka bermain, membereskan mainan mereka dan tidak tertinggal sesekali mendengar nyanyian merdu tangisan si sulung hitam manis Muhammad Al Fatih yang tidak bisa jauh dari ketiak mamanya.

20200917_221113.jpg
Salah satu tugas wajib setiap harinya

Menjelang siang, perut saya sudah kembali meminta jatah, memanglah sebentar-sebentar saya lapar, di maklumi saja, Ibu Menyusui "Busui" kerap kali merasa lapar karena kebutuhan nutrisi yang katanya sih di bagi dua (alasan saja, padahal memang tukang makanan hihi).

Tanpa menggu lama saya mengambil kue yang tadinya juga di belikan oleh suami saya, ada pulut dan juga kue basah lainnya, harga per kue tersebut hanya Rp.1000 saja dan dengan senang hati saya menyantap kue-kue tersebut tanpa takut menjadi gendut.

20200917_073437-01.jpeg
Kue yang saya santap

Siang hari ini tidaklah jauh berbeda dari siang hari biasanya, setelah menunaikan shalat zuhur, sasaran saya hanya bantal dan kasur empuk yang selalu saya rindukan dari lelah lillah mengurus anak-anak. Setiap Ibu Rumah Tangga apalagi yang sedang menikmati masa emas bersama batitanya (Bayi Tiga Tahun) bisa tidur siang paling kurang lima menit saja, sungguh nikmat yang tiada tara yang mampu membuatnya sangat bersyukur dan bahagia.

Biasanya saya dan anak-anak bangun saat adzan berkumandang, namun hari ini jam 03.00 putra saya Muhammad Al Fatih sudah terbangun, dengan sangat terpaksa tapi ikhlas (gimana ceritanya terpaksa tapi ikhlas? 😄), saya segera bangun dengan kepala yang sedikit puyeng alias pusing. Saya menggendong Muhammad Al Fatih dengan berat badannya 15 Kg (tentu membuat saya harus menarik napas dalam belum lagi luka bekas operasi untuk ke dua buah hati saya yang masih harus di jaga) saya membawanya menuju ruang keluarga untuk menonton televisi sambil menikmati keripik singkong pedas manis daun jeruk.

20200917_101617-01.jpeg
Menikmati keripik singkong pedas manis daun jeruk

Dan sampai sore hari, saya hanya menghabiskan waktu di rumah bersama buah hati saya, termasuk putri saya yang bangun ketika adzan asar berkumandang indah dari mesjid Jami' At Tahrir kandang, Kota Lhokseumawe.

Salam hangat dari saya @tiazakaria , info bio klik di SINI

Comments 1


Postingan ini telah dihargai oleh akun kurasi @steemcurator08 dengan dukungan dari Proyek Kurasi Komunitas Steem.

Selalu ikuti @steemitblog untuk mendapatkan info terbaru.

Salam @ernaerningsih

19.09.2020 01:19
0