Pulau Rubiah dan Sejarah Karantina Haji


Pada masa Hindia Belanda, jemaah haji di nusantara yang akan berangkat ke tanah suci, dikarantina dulu di Sabang, Aceh. Sampai sekarang bekas asrama karantina haji masih bisa dilihat di sana. Mengapa Sabang? Karena Sabang memiliki pelabuhan alami yang bisa dimasuki oleh kapal-kapal besar. Pemerintah Kolonial Belanda menyebutnya Kolen Station,

Sejarah pelabuhan Sabang sebagai pusat pemberangkatan jamaah haji nusantara bisa dilihat dari bangunan gedung karantina haji di Pulau Rubiah, Kota Sabang. Sisa-sisa banguna bergaya Eropa itu masih bisa dilihat dalam rimbunan ilalang di sekelilingnya. Sebagai situs sejarah, bangunan ini perlu direnovasi kembali, agar nilai-nilai sejarah yang terkandung di dalamnya bisa direvitalisasi.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_S.S._'Jan_Pieterszoon_Coen'_gemeerd_aan_de_handelssteiger_te_Sabang_op_het_eiland_We_Noord-Sumatra_TMnr_10007920-sabang 1935.jpg
Kapal Jan Pieterzoon di pelabuhan Sabang tempo dulu Sumber

Gedung karantina haji itu dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda lengkap dengan klinik, penginapan, dan berbagai fasilitas pendukung lainnya. Di tempat itu jamaah haji dari berbagai daerah di Nusantara dikarantina selama 40 hari sebelum diberangkatkan ke tanah suci, Mekkah untuk menunaikan ibadah haji.

Dipilihnya Pulau Rubiah sebagai lokasi karantina, karena lokasinya sangat strategis, serta didukung oleh pelabuhan alami yang bisa dimasuki oleh kapal-kapal besar. Pada awal-awal tahun 1890-an kapal-kapal uap sering singgah ke Sabang untuk mengisi bahan baku batubara dan air. Belanda membangun tempat penampungan 25.000 ton baru bara di sana.

Pelabuhan Sabang jadi ramai dengan perdagangan manca negara. Sebelum perang dunia ke II, peran Sabang dalam dunia pelayaran lebih penting dibandingkan Singapura dan Batam. Namun, regulasi pemerintah membuat Sabang terlupakan.

Ketika Belanda masuk ke Aceh pada 1873, Sabang merupakan Sabang merupakan satu-satunya daerah yang bisa dikuasi penuh oleh Pemerintah Hindia Belanda, sementara di daratan Aceh perang terus berkecamuk hingga Belanda meninggalkan Aceh pada 1942.

Sejak tahun 1881, Belanda menetapkan Sabang sebagai pelabuhan alami (Kolen Station). Enam tahun kemudian, tepatnya 1887, Belanda mendirikan maskapai dagang Firma Dalange dengan dibantu Sabang Haven sebagai perpanjangan tangannya.

Sabang Haven memperoleh kewenangan menambah, membangun fasilitas dan sarana penunjang pelabuhan. Memasuki tahun 1895, Sabang menjadi daerah pelabuhan bebas yang dikenal dengan sebutan vrij haven di bawah bawah pengelolaan Maatschaappij Zeehaven en Kolen Station yang dikenal dengan nama Sabang Maatschaappij.

Namun ketika Jepang masuk ke Indonesia setelah kekalahan Belanda tahun 1942, bangunan karantin haji terbengkalai, malah penggunaannya sudah beralih menjadi tempat berlindung tentara Jepang. Kerusakan bangunan asrama karantina haji ini diperparah lagi ketika pada tahun 1945 tentara Sekutu/NICA membombardir pertahanan Jepang di Sabang. Bangunan tersebut ikut rusak.


Posted on RealityHubs - Rewarding Reviewers


Comments 0