Perdamaian Bukan Sekedar Tanda Tangan


Buku ini merupakan kompilasi tulisan tentang perdamaian Aceh, ditulis oleh berbagai kalangan dan disunting oleh sebuah tim penyunting yang terdiri dari Fajran Zain, Halim Elbambi, Saiful Akmal, dan Muhammad Alkaf. Mereka memberi judul Geunap Aceh Perdamaian Bukan Sekdar Tanda Tangan.

Diterbitkan pertama kali pada April 2010 oleh Aceh Institute Press, berisi puluhan tulisan terkait perdamaian Aceh yang ditulis oleh para penulis dari beragam profesi dan latar belakang. Para penulis dalam buku ini mengajak para pihak dan siapa saja untuk merawat dan menjaga keberlangsungan perdamaian Aceh.

geunap aceh.jpg
Cover depan buku Geunap Aceh Foto

Sebagaimana dijelaskan oleh Direktur Eksekutif The Aceh Istitute, Lukman Age dalam pengantarnya, buku ini merupakan buku kumpulan artikel kedua yang diterbitkan Aceh Institute dengan tema khusus tentang konflik dan perdamaian, setelah buku pertama tentang isu perempuan dan kesetaraan gender.

Bagian pertama buku ini dibuka dengan tulisan Lukman Age yang berjudul Tsunami dan Transformasi Konflik. Ia melihat bahwa tsunami hingga titik tertentu menjadi faktor yang ikut menyumbang bagi terwujudnya perjanjian damai.

Setelah itu dilanjutkan dengan tulisan Hasanuddin Yusuf Adan yang bejudulu Konflik Aceh, Hobi atau Kewajiban yang berisi catatan reflektif yang menggelitik. Ia membuka tulisan dari sisi sejarah Aceh yang terus bergulat dengan konflik. Aceh yang tidak pernah mengenal kata menyerah pada setiap pemberontakannya.

Yang tak kalah menariknya tulisan Saiful Akmal dengan judul Aceh: Laboratorium Politik Jakarta, yang mengisahkan tentang masa-masa pergolakan dan dinamika politik di Aceh. Kemudian dilanjutkan oleh Amalia dalam tulisan Jalan Berliku Membangun Perdamaian. Selain itu banyak lagi tulisan-tuilsan menarik lainnya dari para penulis Aceh yang memfokuskan kajiannya pada perdamaian Aceh.

Kemudian bagian kedua buku ini mengambil tema “Kebenaran dan Rekonsiliasi” yang menyoroti tentang prospek dan tantangan pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh sebagai amanah dari perdamaian. KKR mempunyai fungsi yang luas, tidak hanya sekedar menggagas upaya rekonsiliasi. KKR juga diarahkan untuk mencapai beberapa tujuan pembentukannya, yakni penyelesaian masalah Aceh melalui mekanisme pengungkapan kebenaran.

Selanjutnya ada catatan dari Zubaidah Djohar yang bertajuk *Kebenaran Bisu dalam Euforia Damai.” Perdamaian yang sudah dicapai menurut Zubaidah Djohar belum sepenuhnya final dan harus dituntaskan dengan memberikan rasa keadilan, khususnya bagi para korban kekerasan pada masa konflik dan perang Aceh berlangsung.

Selanjutnya pada bagian ketiga membahas tentang wacana pemekaran Provinsi Aceh. bagian ini berisi enam tulisan. Kemudian pada bagian terakhir (Bagian empat) menyorot tentang Pemilihan Umum (Pemilu) di Aceh pasca konflik. Bagian ini berisi sembilan tulisan. Buku ini sangat layak dibaca oleh semua kalangan, baik mahasiwa, akademisi, para pemerhati pemerhati konflik dan resolusi perdamaian, serta kalangan umum lainnya.


Posted on RealityHubs - Rewarding Reviewers


Comments 0