Lonceng Cakra Donya Lambang Harmonisasi Sejarah Aceh – China


Rabu, 14 April 2021, dua anak perempuan saya “mengeluh” bosan di rumah. Hal yang tak biasa mereka lakukan. Biasanya memberikan mereka beberapa lembar kertas HVS sudah cukup untuk “mendiamkan” mereka. Kebiasaanya kalau tak ada kegiatan lain, mereka lebih suka menggambar di kertas HVS, bukan di buku gambar.
edua mereka sepakat mengajak saya keluar untuk jalan-jalan. Karena cuaca kota Banda Aceh hari itu yang lumanyan panas, saya memilih membawa mereka berkunjung ke Museum Aceh. Di sinilah awal cerita ketertarikan mereka pada lonceng Cakra Donya, lambang harmonisasi Kerajaan Pasai (Aceh) dengan China.

Setelah memarkirkan kenderaan di sisi kiri halaman museum, tanpa dikomandoi, keduanya segera berlari ke sebuah papan informasi, membaca detil denah setiap bangunan dalam komplek Museum Aceh tersebut. Hanya beberapa meter sebelah barat papan informasi, sebuah bangunan dengan lonceng besar tergantung di dalamnya menarik perhatian mereka berdua.

Beragam pertanyaan mereka lontarkan, saya pun berlagak seperti pemandu w wisata (tour guide) bagi meka berdua. Anak saya yanang perta bertanya, mengapa lonceng besar yang sudah itu digantung di sana. Saya hanya menunjuk prasasti kecil di samping bangunan lonceng. “Baca di sana!” kata saya singkat. “Bahasa Inggris Yah, tak paham,” jawabnya kemudian. “Satunya lagi,” kata saya menunjuk ke bagian tulisan berbahasa Indonesia di prasasti tersebut.

“Dari China Yah,” katanya seolah kaget setelah mengetahui informasi dari prasasti tersebut. Ia kegirangan dan langsung mengajak adiknya untuk berpose di sana. Dan ini penampakan mereka di lonceng bersejarah tersebut yang berhasil saya jepret dengan kamera telepon selular saya.

cakra donya1.jpg
Dua putri saya berpose di Lonceng Cakra Donya [foto: dok pribadi]

Ini merupakan pengetahuan baru bagi anak perempuan saya yang baru kelas empat sekolah dasar itu. Ia semakin banyak bertanya tentang lonceng Cakra Donya. Beruntung, sebagai orang yang sering dan suka membaca sejarah, saya sedikit tahu tentang sejarah lonceng Cakra Donya tersebut.

Saya jelaskan kepadanya, lonceng itu merupakan hadiah dari kaisar Yongle dari Tiongkok (China) untuk Kerajaan Samudera Pasai di Aceh. Lonceng itu dibawa oleh Laksamana Cheng Ho, seorang penjelajah muslim asal China pada tahun 1414, sekitar 607 tahun silam.

Anak perempuan saya itu semakin kaget mengetahui usia lonceng Cakra Donya tersebut. Ia naik anak tangga bangunan itu dan melihat ke dalam. Di lantai bangunan di bawah lonceng terletetak ran

tai besayang juga sudah berkarat. Tapi ia penasaran bagaimana membunyikan lonceng itu.

Saya katakan padanya sesuai pemahaman sejarah yang saya ketahui bahwa biji lonceng semacam bola bulat yang bergantung di tengah lonceng itu sudah hilang, dulu untuk membunyikan lonceng Cakra Donya biji lonceng itu dibenturkan ke sisi dalam lonceng, suaranya sangat menggelegar. Tapi saya tidak bisa menjelaskan kapan biji lonceng itu hilang.

Kabar yang pernah saya dengar dari sejarawan Aceh, almarhum Ridwan Azwad, lonceng Cakra Donya diambil dari Kerajaan Samudera Pasai di Aceh Utara sekarang dibawa ke pusat Kerajaan Aceh di Kota Banda Aceh sekarang, ketika Kerajaan Pasai ditaklukkan oleh Kerajaan Aceh pada masa Aceh dipimpin Sultah Ali Mughayatsyah.

Karena suaranya yanmenggelegar, lonceneng Cakra Donya pernah dipakai oleh armada angkatan laut Kerajaan Aceh pada masa kepemimpinan Sultan Iskdar Muda saat perang melawan Portugis di Selat Malaka. Bunyi i lonceng dijadikan semacam sandi atau kode dalam perang.

Pada masa pemerintahan raja-raja selanjutnya, lonceng Cakra Donya itu digantung di atas pohon kedondg besar (Anacardiaceae) di kompmplek istana kerajaan Aceh, lonceng itu hanya dibunyikan pada waktu-waktu tertentu saja, semisal sebagai petanda pengumuman dari raja atau hal-hal lainnya.

Pada masa perang kolonial Belanda di Aceh, beberapa tentara Belanda pernah berusaha menurunkan lonceng Cakra Donya tersebut. Di sinilah cerita mistis tentang lonceng itu mulai berkembang, kabarnya jongos atau pekerja yang mencoba menurunkan lonceng itu mengalami sakit, sehingga kemudian lonceng itu dibiarkan saja terus bergantung di pohon besar tersebut.

Dan kemudian setelah masa kemerdekaan, lonceng Cakra Donya ditempatkan di halaman Museum Aceh hingga sekarang. Bagaimana pun longceng tersebut telah menjadi bukti sejarah tentang harmonisasi hubungan Aceh dengan China pada masa silam. Semoga tulisan ini bermanfaat.

museum1.jpg
Papan Informasi Museum Aceh [Foto: dok pribadi]


Comments 0