Kisah Tokoh Aceh Menolak Diangkat Jadi Menteri oleh Presiden Soekarno


Dua orang tokoh Aceh, Teuku Hamid Azwar dan Teuku Muhammad Daod menolak diangkat menjadi menteri oleh Presiden Soekarno, Teuku Hamid Azwar malam dua kali ditawari, dan tetap menolaknya.

Teuku Hamid Azwar, dikirimi surat dan utusan oleh Presiden Soekarno untuk menghadiri pelantikan menjadi menteri, ia tak percaya, sehingga Presiden Soekarno sendiri yang datang ke rumahnya. Tapi tokoh pejuang kemerdekaan asal Aceh itu tetap menolak dilantik menjadi menteri.

Mengapa ia berani menolak tawaran Presiden Soekarno hingga dua kali? Karena ia merupakan orang dekat Soekarno yang blak-balakan, orang Aceh Tulen yang sekali bilang “tidak” tetap tidak.

teuku-hamid-azwar-bersama-soekarno.jpg
Teuku Hamid Azwar bersama Soekarno foto

Presiden Soekarno sangat berkeinginan untuk mengangkat Teuku Hamid Azwar menjadi Menteri Perdagangan, setelah putra Aceh tersebut berhasil mewujudkan keinginan Presiden Soekarno mendirikan pusat perbelajaan modern pertama di Indonesia, yakni Sarinah Departemen Store (Gedung Sarinah) yang juga menjadi gedung tertinggi di Jakarta pada masa itu.

Tentang dua kali penolakan Teuku Hamid Azwar untuk dilantik menjadi menteri tersebut, bisa dibaca dalam buku yang ditulis oleh Tengku AK Jakobi, Aceh Dalam Perang Mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 1945-1949 dan Peranan Teuku Hamid Azwar Sebagai Pejuang pada halaman 422 hingga 426. Buku ini diterbitkan pada tahun 2004 oleh Gramedia Pustaka Utama bekerja sama dengan Yayasan Seulawah RI-001.

Dalam buku itu dijelaskan, pada tahun 1962 Presiden Soekarno mengirim utusan meminta kepada Teuku Hamid Azwar untuk bersiap-siap menghadiri pelantikan dirinya menjadi Menteri Perdagangan, tapi Teuku Hamid Azwar menolaknya. Alasannya ia kurang sehat, dan saat itu ia sedang menjabat sebagai Direktur Utama BPU-PDN, jabatan itu juga ditinggalkan, ia digantikan oleh Drs Harsono yang kelak menjadi Duta Besar Republik Indonesia di Jepang.

Presiden Soekarno tidak bisa berbuat apa-apa, meski demikian hubungan keduanya tetap baik. Ketika Presiden Soekarno berada di Tokyo, Jepang dan Teuku Hamid Azwar sedang menjalani perawatan setelah operasi di sana, Presiden Soekarno menjenguknya.

Tawaran kedua untuk menjadi Menteri Perdagangan disampaikan Presiden Soekarno dalam tahun 1964. Suatu hari pihak istana mengabari bahwa Presiden Soekarno ingin makan siang di rumah Teuku Hamid Azwar di Kebayoran Baru. Petugas istana menyampaikan bahwa makanan kesukaan Presiden Soekarno adalah tempe bacem, sayur lodeh dan telur pindang. Semua itu harus dimasak di rumah, tak boleh dibeli di luar.

Setelah makan siang di rumah Teuku Hamid Azwar, beberapa hari kemudian Presiden Soekarno mengundang Teuku Hamid Azwar untuk makan siang di istana bersama dengan Gubernur Bank Indonesia, Soemarno. Di sana Presiden Soekarno secara langsung kembali menawarkan kepada Teuku Hamid Azwar untuk menjadi Menteri Perdagangan. Tapi lagi-lagi ditolak. Akhirnya Presiden Soekarno berkata “Kamu ini memang kepala batu.”

Julukan “kepala batu” itu sering disampaikan Presiden Soekarno sebagai candaan dalam berbagai pertemuan ketika dalam pertemuan itu ada Teuku Hamid Azwar, tapi hubungan keduanya tetap baik, Teuku Hamid Azwar tetap dipercayakan oleh Presiden Soekarno di jabatan lain.

Sikap Teuku Hamid Azwar yang teguh pada prinsip tersebut sangat disukai Presiden Soekarno, bila dengan pejabat lain Presiden Soekarno sangat marah bila dibantah, tidak demikian dengan Teuku Hamid Azwar.

Tokoh lain yang menolak jabatan menteri yang ditawari Presiden Soekarno adalah Teuku Muhammad Daod, sama dengan Teuku Hamid Azwar keduanya berasal dari Aceh. Teuku Muhammad Daod juga ditawari jabatan Menteri Perdagangan karena kesuksesannya sebagai Direktur Utama Perusahaan Nasional Panca Niaga. Tapi ia juga menolaknya.


Comments 0