Book Review: Demokrasi Aceh Mengubur Ideologi


Buku ini dengan judul “Deokrasi Aceh Mengubur Ideologi” ini ditulis Adam Mukhlis Arifin, anak dari pentolan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Iklil Teungku Ilyas Leubee. Perang ideology membuat ia terpisah dengan ayahnya sejak lahir.

Buku ini diterbitkan oleh The Gayo Institute pada tahun 2011. Imam Prasojo menilai buku ini sebagai sebuah buku yang perlu dan patut dibaca. Salman Yoga yang bertindak sebagai editor buku ini menulis tamsilan atau perumpamaan bahwa, buku ini memiliki perpaduan perspektif yang serius, alurnya mengikuti kesetiaan mata air yang mengandung air mata, berpusing dan mengalir. Dimulai dari terdekat lalu kembali ke hulu hingga bermuara pada samudera demokrasi yang hegemoni dengan sistem kepemerinthan negara.

adam.jpg
Cover buku Demokrasi Aceh Mengubur ideologi sumber

Begitu juga dengan pengamat politik Indonesia asal Aceh, Fachry Ali yang ikut memberi ulasan pada buku ini. Menurutnya, Partai Aceh sebuah kekuatan politik yang dominan di Aceh dewasa ini, nilai transformatifnya adalah penjelasan tentang bagaimana proses dialog di kalangan kekuatan-kekuatan politik Aceh pasca perjanjian damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Republik Indonesia di Helsinki, Finlandia pada 15 Agustus 2005 lalu.

Fachry Ali dalam catatan singkatnya pada awal pembuka buku ini juga menjelaskan bagaimana interaksi antara kekuatan-keuatan lokal, yang secara psikologis merasa telah keluar sebagai “pemenang” dengan ketentuan-ketentuan nasional.

Dalam buku ini juga disajikan pembahasan-pembahasan yang memuat perbandingan antara partai-partai politik nasional dan partai-partai politik lokal di mancanegara. Buku ini juga memuat informasi tentang sejarah kelahiran Partai Aceh (PA). Buku ini juga bisa menjadi sebuah dokumen sosial dan sejarah politik masyarakat Aceh.

Buku ini dibagi dalam enam bagian. Bagian pertama berisi pendahuluan yang membahas tentang Pemerintah Aceh dan partai politik lokal di Aceh. Kemudian bagian kedua yang diberi judul “Pantulan Cermin Kusam” berisi tiga tulisan yakni: Sebuah kausalitas sejarah, Kesadaran untuk melawan, dan Musibah, gencatan senjata dan harapan baru.

Bagian ketiga membahas tentang “Partai Politik” yang juga diberi judul kecil di bawahnya (Power, Decision Making, Policy and Allocation). Bagian ini berisi tiga pembahasan pokok yang meliputi: Teori dan ideology politik, Riwayat partai politik di Indonesia, dan Hubungan partai politik dengan konstituen.

Kemudian pada bagian keempat buku ini membahas “Partai Politik Lokal dan Negaar Federal” yang diawali dengan partai politik lokal, pro kontra dan simbolisme Partai GAM, serata Parlok tidak mengubah Indonesia menjadi federal.

Sementara itu bagian kelima khusus membahas tentang “Partai Aceh” mulai dari sejarah Partai Aceh, Kemelut lahirnya Partai Aceh, Tantangan dan Kinerja Partai Aceh, hingga Partai politik lokal dilindungi Undang-Undang Dasar 1945.

Buku ini ditutup pada bagian enam yang memuat tentang daftar pustaka, indek dan profil penulis bersama editor. Sebagai mana dijelaskan Fachry Ali dalam catatan singkatnya di bagian awal buku ini, akan sedikit kesulitan memberi penilaian terhadap isi buku ini, namun, sebagai sebuah dokumen sosial dan sejarah, tidak ada ruginya membaca dan memiliki buku ini.


Posted on RealityHubs - Rewarding Reviewers


Comments 0