Jalan (Pilihlah Jalan Hidup Yang Benar)


yyc0d5.jpg

Jalan

Aku berjalan di sebuah jalan.
Jalan yang dulu kuyakini menuntunku ke arah tujuan.
Sudah separuh jalan sudah kutempuh.

Jalan itu penuh lubang.
Aku lompat sana sini hindari lubang-lubang itu.
Kulihat kanan kiri jalan itu.
Banyak pemandangan memilukan.

Tapi tiba-tiba aku tersadar.
Itu bukan jalan yang menuntun ke tujuan akhir.
Sudah separuh perjalanan ku tempuh.
Apakah aku harus balik untuk cari jalan lain?

Apakah masih ada waktu untuk mencari jalan lain?
Matahari sudah mulai terik, tanda sudah mulai tengah hari.

Bila kucoba jalan lain.
Ku takut matahari akan segera tenggelam.
Tenggelam dalam kesenjaan dan gelap.
Jalan lain pun tak kelihatan arahnya.
Dan sulit sampai ke tujuan.

Surabaya, 4 Nopember 2019

Puisi ini pernah dimuat di halaman blog saya di Kompasiana

Waktu jadi sales, saya teringat kata-kata salah seorang pelanggan yang sudah berumur hampir 60 an. Orangnya baik, Pernah suatu saat ia memberi nasihat ke saya, kira-kira begini nasihatnya,

"To, umurku sudah Lima puluh lebih, ibaratnya matahari sudah ada di atas kepala."

"Aku musti persiapan buat masa tua."

Saya memaklumi, beliau bicara begitu. Dia dan istrinya sudah berumur.

Pernah memiliki satu anak laki-laki, satu-satunya permata hidup mereka. Tapi sayang meninggal di usia sebelum menginjak remaja.

Istrinya pernah cerita ke saya, "Anakku kalau masih hidup, usianya hampir sama dengan kamu."

Trenyuh rasanya hati ini, waktu mendengarkan istrinya bicara begitu.

Istrinya sangat santun, walaupun kalau marah, ngomelnya, kayak orang didikan Holland Spreken (Istilah jadul buat orang-orang didikan sekolah Belanda).

Terakhir bertemu dengan suaminya kira-kira tiga tahun yang lalu. Saya sempat tanya kondisi istrinya, dia hanya menjawab dengan jari telunjuk mengarah ke atas.

Duh, sedihnya tahu kalau sang istri sudah meninggal dunia. Saya sempat berkunjung ke rumah beliau ketika istrinya masih hidup. Sang istri saat itu sudah sakit stroke, tapi melihat saya datang, senangnya bukan main. Sampai suaminya ngomong, istrinya sudah lama jarang ngomong sejak kena stroke. Walau ngomongnya cedal, plintat plintut, tapi terasa sekali kegembiraan di raut wajahnya ketika tahu saya yang datang berkunjung.

Sekarang, saya juga teringat kata-kata sang suami agar persiapkan diri sebelum berada dimasa usia senja. Terlebih lagi dalam hal memilih jalan hidup, dia selalu mewanti-wanti saya. Jangan sampai salah jalan, nanti tuanya menyesal tiada guna. Sekarang baru saya tahu apa yang dimaksudkan itu.(hpx)


Comments 4


Thanks for using eSteem!
Your post has been voted as a part of eSteem encouragement program. Keep up the good work! Install Android, iOS Mobile app or Windows, Mac, Linux Surfer app, if you haven't already!
Learn more: https://esteem.app
Join our discord: https://discord.gg/8eHupPq

04.11.2019 07:06
0

Kita sudah resteem ke ribuan follower yaa.. =] Terimakasih sudah memilih kami sebagai witness.

04.11.2019 07:09
0

dblog logo w white background.jpg
This post is upvoted by @dblog.supporter.
Visit https://dblog.io now! This is a tribe for all bloggers on Steem blockchain.

04.11.2019 07:10
0

Hi @happyphoenix!

Your post was upvoted by @steem-ua, new Steem dApp, using UserAuthority for algorithmic post curation!
Your UA account score is currently 4.741 which ranks you at #1587 across all Steem accounts.
Your rank has not changed in the last three days.

In our last Algorithmic Curation Round, consisting of 111 contributions, your post is ranked at #15.

Evaluation of your UA score:
  • Some people are already following you, keep going!
  • The readers appreciate your great work!
  • Try to work on user engagement: the more people that interact with you via the comments, the higher your UA score!

Feel free to join our @steem-ua Discord server

05.11.2019 22:05
0