A Dream Come True, Pengalaman Tes CPNS 2018


Sebelum saya beberkan pengalaman syaa ikut CPNS. Saya bakal curcol sedikit. Pada suatu hari di beberapa tahun lalu, saya pernah bilang ke Bibi, bahwa saya masih pengen jadi PNS. Kata orang, kalau kamu ingin mencapai sesuatu di titik tertentu, kamu jangan pernah takut untuk bermimpi.

Itu yang kemudian mendasari saya. Semua dimulai sejak saya honorer di salah satu SD Negeri di Kabupaten Musi Rawas. Di sana semua gurunya rata-rata sudah senior. Per tahun 2020, 2021, 2022 dan seterusnya bakal ada guru yang pensiun satu persatu.

Dari sana saya kemudian berpikir, kalau semua guru senior pensiun, sekolah ini bakal butuh guru muda. Itu yang selanjutnya bikin saya merasa optimis, optimis untuk menjadi PNS. Tapi apa kata Bibi?

Alih-alih langsung menjawab, Bibi cuma diam, bukan mau menghujat mimpi saya yang sangat mainstream ini, Bibi lalu menjawab dengan nada khasnya.

"Apa yang akan kamu lakukan untuk meraihnya?" tanya Bibi. Tak lama kemudian Bibi ngomong lagi, "Kamu harus benar-benar tau jalan yang harus kamu tempuh sebelum kamu ke arah situ."

Lanjutan kata-kata Bibi ini sangat menohok. Setidaknya sangat saya ingat sampai sekarang. Setelah itu saya bilang, "Sekolah lagi!" jawab saya yakin.

Saya kemudian beneran sekolah lagi. Mengkonversikanijazah komputer saya, menjadi PGSD. Untung di UT ada jurusan PGSD yang bisa dimasukin Sarjana dari segala bidang ilmu.

Saat sekolah ini saya hanya berpikir bahwa Tuhan udah ngasih saya jalan, jadi tugas saya cukup melaksanakannya sebaik mungkin, bagaimana nanti saya kembalikan lagi ke Tuhan, mau dijadikan apa saya ini.

Tapi bapak saya berkata lain. Menurut bapak, saya itu tolol. Kalau memang mau ngambil jurusan pendidikan, kenapa gak dari awal. Cuma saya gak ambil pusing. Saya berusaha membayar sendiri sekolah kali ini tanpa ngerusuhin uang orangtua.

Awal tahun 2018 saya lulus pendidikan. Saya sempat pergi ke Solo. Belum ada tanda apapun. November awal saya pulang kampung buat tes CPNS.

Dan, pada tanggal 31 Desember 2018 lalu, Bupati Musi Rawas Utara memberikan pengumuman akhir bersama Panselnas. Nama saya tercantum sebagai salah satu peserta yang dinyatakan lulus CPNS. Alhamdulillah.

Saya selalu yakin bahwa saya akan sampai ke titik ini. Tapi saya tidak menyangkanya bisa berada di sini secepat ini. Ini benar-benar a dream come true.


Pixabay.com

Saya pikir kalimat a dream come true cuma ada di dongeng. Ternyata beneran ada asal kita percaya, dan selalu menyertakan Tuhan bersama mimpi-mimpi kita.

Postingan ini saya dedikasikan buat Bibi Arista Devi, seseorang yang selalu memberikan pengaruh baik kepada saya. Terimakasih, Bi.

***

Apakah jalan saya untuk menjadi PNS mulus-mulus saja?

Saya lulus S1 Komputer di tahun 2015. Sejak menggenggam ijazah S. Kom, saya tidak pernah sekalipun menggunakan ijazah itu. Pertama, karena saya sudah bekerja tetap di sekolah sebagai honorer. Kedua, gak ada pekerjaan yang cocok untuk ijazah saya itu. Ketiga, ketika ada lowongan pekerjaan yang tepat, saya gak pernah dapat panggilan.

Pernah ikut apply di jobstreet, kecantol satu dari ratusan cv yang saya sebar. Dapat tawaran wawancara, tapi di luar kota sebagai petugas asuransi. Saya rasa ini tidak cocok buat saya. Maka tidak saya lanjutkan. Dan sejak itu, tidak pernah ada tawaran interview lagi yang masuk ke profil saya.

Setahun kemudian, saya mengalami dilema saat mau mendaftar PGSD. Antara yakin, dan tidak. Iya dan nggak ini harus saya pikirkan sendiri. Sampai akhirnya muncul pendapat dari kakak saya, dia sama kayak Bibi, sebelum ngasih solusi selalu nanya dulu.

Coba pikirin, ijazahmu yang sekarang seberapa bermanfaat buatmu di masa sekarang dan yang akan datang? Bandingkan jika kamu punya ijazah PGSD.

Saya lagi-lagi memikirkan sekolah tempat saya honorer yang pasti bakal butuh guru muda. Dari situ akhirnya saya yakin untuk ambil kuliah Sabtu-Minggu di UT.

Setahun kemudian, dibuka CPNS besar-besaran dari beberapa kementerian dan puluhan pemda. Peluang buat ijazah komputer saya hanya ada beberapa biji, sedangkan pelamarnya ratusan. Meskipun begitu, saya tetap coba mendaftar.

Pengalaman Tes CPNS

Kementerian Hukum dan HAM menjadi sejarah pertama tempat saya mendaftar CPNS. Hasilnya? Gagal di SKD. Nilainya? Kecil. Saya gak punya persiapan apapun. Saya hanya coba-coba. Sebuah upaya yang sia-sia kalau saya simpulkan sekarang.

Tak lama setelah itu dibuka lagi gelombang II. Saya mendaftar di Kementerian Pertanian bagian Audit. Kali ini saya lebih bersiap diri. Bagaimana hasilnya? Gagal juga di SKD. Passing Grade pada waktu itu TWK 75, TIU 80, TKP 143. Saya hanya mendapat nilai 70 di TWK, 80 TIU dan 145 di TKP. Artinya kalau TWK saya benar 1 jawaban lagi saja, saya berkesempatan lulus SKD.

Belajar dari pengalaman itu, pada seleksi selanjutnya saya memotivasi diri saya untuk lulus. Karena saya hanya butuh sedikit lagi di TWK kan, begitu pikir saya.

September 2018 dibuka lagi CPNS serupa. Saya sudah lulus PGSD, dan saya senang, kali ini Pemda yang saya lamar menyediakan formasi 55. Lokasi yang saya pilih dilamar oleh 9 orang, jadi saya hanya bersaing dengan 8 pesaing lain. Hasilnya? Masih juga gagal di SKD. Padahal saya sudah sangat optimis untuk lulus. Nilai saya jatuh di TKP. Saya hanya berhasil memperoleh nilai 123 saja, padahal ambang batas yang diberikan pemerintah harus 143.

Saya terpuruk. Saya sedih. Saya merasa gagal. Saya merasa sudah mengecewakan banyak orang. Saya kecewa dengan diri saya sendiri. Saya melow. Saya gak karuan. Tapi kemudian Tuhan berkata lain. Saya jadi ingat niat saya kuliah PGSD, saya merasa itu adalah jalan yang dibetikan Tuhan buat saya, jadi saya harus menjalankannya dengan sebaik mungkin, lalu sisanya saya kembalikan ke Tuhan lagi.

Satu bulan setelahnya, di akhir 2018, ternyata muncul hasil bahwa dari ratusan pelamar hanya 1 yang berhasil lulus passing grade. Saya beruntung. Pemerintah kemudian membuat kebijakan baru dengan meranking seluruh pelamar menjadi P1 untuk yang lulus ambang batas, dan P2 untuk yang sebelumnya gagal.

Saya dapat ranking 2 dalam perangkingan. Jumlah pelamar yang dapat mengikuti SKB adalah 3x jumlah formasi. Artinya saya bisa ikut SKB.

Dari sini kita sudah bisa ngukur, dan berandai andai, kalau dapat nilai sekian bakal di peringkat berapa di pengumuman akhir. Semua orang bisa mengecek nilainya dari web pemda, termasuk nilai pesaing, jadi memang sangat memudahkan.

Mulai menghitung

Di masa mulai menghitung ini, saya memegang kendali optimis kalau SKB saya dapat peringkat 1,saya pasti bakal lulus. Cuma, tidak semudah itu juga bikin diri sendiri optimis. Karena setelah itu muncul edaran bakal ada penambahan 10 poin untuk putera daerah.

Nah, di sini saya mulai cemas lagi. Motivasi keoptimisan saya yang semula sudah berada di titik 90%, turun lagi ke angka 30 karena takut pesaing saya ketambahan 10 poin. Kan geregetan jadinya. Belum lagi kehawatiran kalau pesaing saya punya Sertifikat Pendidik.

Sementara itu di keluarga inti saya masih kemakan sugesti kuno, bahawa untuk jadi PNS minimal harus rela merogoh kocek ratusan juta rupiah. Saya jelaskan seleksi kali ini lain, tapi percuma saja. Malah menambah pedebatan yang tak ada ujungnya.

Sampai waktunya pengumuman hasil final keluar. Nama saya, Hadi Kurniawan muncul dalam salah satu dari ratusan nama yang dinyatakan lulus CPNS. Sujud syukur, saya langsung mencari ibu saya, saya peluk dari belakang, sambil saya bisikin kalau saya lulus. Ibu saya menangis, bangga katanya. Tidak pernah sebelumya ibu saya sebangga itu, bahkan ketika dulu saya dapat ranking sekali pun ibu saya selalu cuek. Tapi kali ini lain. Ini benar-benar pengalaman tes CPNS yang sangat menyenangkan.

Alhamdulillahirabbil alamin. Saya benar-benar merasa mendapatkan durian runtuh. Ini adalah apa yang Tuhan kasih setelah saya melaksanakan dengan baik apa yang diarahkan oleh Tuhan.



Posted from my blog with SteemPress : https://www.hadikurniawan.com/pengalaman-tes-cpns/

Comments 0