MP-47: Rakét Bak Pisang, Galah Bak Rangkiléh, Ôh Lheuh Tajeumeurang, Keupeu Teueh Lom Rakét Paléh


Rakét Bak Pisang, Galah Bak Rangkiléh, Ôh Lheuh Tajeumeurang, Keupeu Teueh Lom Rakét Paléh

MP-47.jpg
Sumber

Selamat pagi steemian …

Dalam menjalani hidup ini, kita tidak bisa berjalan sendirian. Selaku makhluk sosial tentunya kita saling membutuhkan dan membantu antara satu dengan lainnya. Perlu bersosialisasi diri dan berinteraksi dalam memenuhi kebutuhan hidup masing-masing.

Dalam interaksi keseharian bersama, tentu ada yang memberi dan ada pula yang menerima. Masing-masing di posisinya pada saat yang sama. Untuk keadilan dan kebersamaan, di saat yang lain posisi tersebut harus saling berbalik.

Berarti yang memberi punya piutang, sementara yang menerima punya hutang “kebaikan”. Dan setiap hutang wajib hukumnya untuk dibayar, termasuk hutang kebaikan. Dan inilah yang disebut prinsip balas budi.

Adapun prinsip balas budi ini dimaksudkan untuk membalas kebaikan seseorang yang telah membantu kita. Prinsip ini sangat penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari, sehingga sering dilekatkan dengan status moral.

Di beberapa negara atau komunitas masyarakat, prinsip balas budi menjadi suatu keniscayaan. Tidak membalas budi bisa dianggap sebagai pelanggaran besar dalam kehidupan sosial. Intinya, dalam menjalani hidup ini, tidak ada yang gratis. Keseembangan akan tercipta jika kata “saling” tertanam dalam jiwa masing-masing.

Tidak seperti kata pepatah lama orang Aceh: ”Rakét bak pisang, galah bak rangkiléh, ôh lheuh tajeumeurang, keupeu teueh lom rakét paléh". (Rakit batang pisang, galahnya batang gedalu. Jika sudah menyeberang, untuk apa lagi rakit celaka). Pepatan ini ditujukan kepada orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan membalas budi.

Salam pagi dan tetap semangat,
@farizalm


Comments 0