Cerita Mobil


IMG_20201003_110915.jpg

Orang yang memiliki mobil yang beranggapan bahwa orang lain yang tidak.memiliki mobil adalah karena mereka tidak mampu membelinya itu sama saja dengan orang yang berjalan kaki yang menganggap orang yang sedang enak2 duduk itu sebagai orang yang tidak mampu berjalan.

Lebih parah lagi jika beranggapan bahwa semua orang itu sebenarnya ingin memiliki mobil tapi tidak mempunyai uang untuk membelinya.

Disinilah awal mula sikap sombong itu mulai tumbuh sehingga meremehkan orang lain yang dianggapnya tidak selevel dengannya. Disini pula saya bisa memahami ketika ada seorang tokoh masyarakat yang ketika saya masih belajar di Jogyakarta terkadang sowan kepadanya menolak waktu ada yang memberinya sebuah mobil sebab beliau khawatir jika anak2nya tidak siap untuk memilikinya & akan menjadikannya sombong.

Memang menggelikan, setidaknya apa yang pernah saya alami disikapi serta diperlakukan seperti itu.

Karena dilihatnya saya tidak memiliki mobil banyak orang yang ketika melihatku pergi dengan mobil charteran kemudian "berbaik hati" menawariku untuk menggunakan mobilnya jika saya mau bepergian.
Namun ketika tawarannya itu saya terima banyak hal2 lucu yang pernah saya alami.

Seperti, ketika saya mengembalikan mobilnya, saya melihat sikap & mimik wajah pemiliknya sangat berbeda sekali dengan ketika menawariku.

Ada pula yang seperti itu tapi sambil disertai ucapan yang menyakitkan, namun ketika saya pulang & kembali lagi menemuinya dengan memberikan sejumlah uang senilai biaya charteran ia menerimanya sambil tersenyum.

Ada yang katanya setelah mobilnya saya pakai, cassete yang ada di mobilmya hilang. Dan ketika saya tanyakan siapa yang mengambil, ia malah menuduhkku.

Ada lagi ketika saya sudah siap2 mau pergi & tentunya sudah membeli oleh2 serta menyiapkan bekal selama dalam perjalanan tiba2 ia memberitahuku bahwa mobil yang mau dipinjamkan kepada saya itu akan ditengok orang yang akan membelinya, tapi ketika dia tahu bahwa saya sudah mendapatkan mobil sewaan ia malah mau ikut pergi bersama saya, katanya mau menengok sahabatnya yang sekota dengan kota yang akan saya tuju.

Dan lebih parah lagi ketika tiba2 ada yang membatalkan pinjamannya itu, namun ketika saya ingatkan bahwa bukankkah ia yang menawariku duluan untuk menggunakan mobilnya dia malah marah2, katanya sayalah yang mau minta tolong meminjam mobil tapi ketika ditolaknya saya marah2, katanya.
Padahal dialah yang menawariku & dia pulalah yang marah, hehe. Yang seperti ini ada 2 orang.

Istrikupun pernah mengalami bersama orang2 kampung lainnya ketika akan melayat ke luar kota, yaitu melayat kepada orang yg pernah menjadi tetangga kami.
Si pemiik mobil melarang untuk menyewa mobil lain karena ia telah menyediakan mobilnya utk keperluan tsb. namun ketika sudah berada didalam mobil mengutip uang dari orang2 yang diajaknya itu.

Sayapun juga pernah mengalami, yaitu ketika ditawari untuk ikut menjenguk warga kampung yang tergolong sangat kaya yg sedang dirawat di sebuah rumah sakit mewah di sebuah kota besar yang jauh, hanya dengan duduk manis saja di dalam mobilnya, katanya.
Namun ketika pulang dan sampai di depan garasi mobilnya saya dimintai uang iuran, bukan hanya dengan duduk manis saja seperti waktu mengajakku.

Dan inilah mungkin yang paling parah yaitu ketika ada orang yang sedang membeli sesuatu di tokoku tapi motornya diparkir di tepi jalan di depan toko lain. Tiba2 pemilik toko itu mengeluarkan mobilnya serta menabrak motor milik pembeliku yang terparkir di pinggir jalan di depan tokonya itu dari belakang tanpa minta maaf samasekali. Brakkk!!! Padahal saya lihat motornya masih baru, belum berplat nomor.

Dan yang paling ringan adalah sebagian sahabat yang sebentar lagi akan memiliki mobil, rata2 mereka memberitahuku serta ingin mengajakku jalan2. Namun setelah memilikinya mereka lupa sampai sekarang.

Sehingga agar kejadian seperti itu tidak terulang lagi maka semua tawaran gratis itu akhirnya saya abaikan & saya lebih nyaman mencari mobil sewaan spt yang sudah2. Termasuk ketika diampiri untuk mendatangi sebuah undangan saya lebih memilih naik sepeda jika kakiku masih mampu untuk mengayuh pedal sampai ke tujuan atau jika agak jauh saya bisa naik motor. Merdeka.
Yang saya sangat herankan adalah kenapa rata2 mereka itu saya lihat akhirnya pada menderita penyakit stroke atau penyakit yang tergolong berat lainnya serta kehilangan sesuatu yang lebih mahal dari seluruh harta yang dimilikinya, yaitu kesehatannya.

Setidaknya itulah pengalaman yang sangat berharga dalam hidupku yang harus saya ingat sebelum suatu saat nanti saya benar2 sudah membutuhkannya bukan hanya sekedar ingin memilikinya, apalagi untuk menaikkan gengsi atau status sosial semata.

Semoga tulisan ini dapat menjadi renungan untuk saya sendiri.
Salam @faidom.


Comments 0