The Diary Game Season 3, Minggu, 25 Oktober 2020 (Seharian di Rumah Duka)


IMG_20201027_201522.jpg


Hari ini saya tak bisa berlama-lama di tempat tidur. Biasanya weekend seperti ini, setelah sholat subuh, saya memilih untuk berbaring kembali sampai puas. Enam hari yang penuh kesibukan di luar sebagai seorang guru, membuat saya begitu merindukan momen hari libur seperti ini. Namun apa daya, hari ini saya tak bisa bermalas-malasan. Dengan kondisi tetangga sebelah sedang mendapatkan musibah.


Alhasil setelah sholat, saya segera bangun dan berbenah. Tak lupa saya membuka semua pintu dan jendela agar udara pagi hari yang segar terhirup sempurna. Pagi ini cuaca masih sama seperti kemarin. Matahari masih malu-malu menampakkan diri. Mendung masih begitu kentara membayangi bumi. Saya segera menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah tangga yang sudah menunggu. Kain kotor yang sudah menggunung, dan piring kotor yang sudah menumpuk.

IMG_20201027_200332.jpg
foto menu sederhana yang saya siapkan di rumah hari ini


Saya menyuruh suami untuk pergi membeli nasi gurih Mi Ni sebagai sarapan hari ini. Dan saya masih setia mengurus rumah, membereskan mainan anak-anak yang berantakan dari ruang tamu sampai ke pintu belakang. Saya juga menyempatkan untuk memasak menu makan siang untuk suami dan anak-anak. Tepat saat suami pulang dengan beberapa bungkus nasi gurih Mi Ni, saya selesai mengurus cucian dan beres-beres rumah. Sambil menunggu anak-anak terbangun, kami menikmati sarapan pagi berdua dengan di temani segelas kopi susu.


Selesai kami sarapan, satu persatu anak-anak terbangun. Saya segera memandikan mereka dan menyuapi mereka sarapan. Jam menunjukkan pukul 8 pagi saat saya selesai mengurus anak-anak dan semua kebutuhan mereka. Kemudian saya bersiap-siap dengan pisau dapur di tangan, menuju ke rumah duka. Hari ini akan ada tetangga dari desa sebelah yang akan bertakziyah dan berdoa di rumah duka. Jadi kami semua berencana untuk memulai aktivitas memasak lebih cepat dari sebelumnya. Agar saat tamu berdatangan, hidangan "kenduri", meskipun sederhana tapi sudah bisa di nikmati.

IMG_20201027_200428.jpg
foto sebungkus nasi gurih Mi Ni yang menjadi sarapan pagi ini


Saat saya tiba di rumah duka, belum banyak Ibu-ibu yang datang. Hanya bertiga dengan saya. Kami segera mengerjakan hal-hal kecil yang bisa kami buat sambil menunggu tetangga lainnya berdatangan. Kami memulai kegiatan di rumah duka dengan mencincang sayur mayur, mencuci semua bumbu masakan, membersihkan ikan yang dari pagi buta sudah di antar, dan merebus mie kecil. Sayang sekali semua kegiatan di rumah duka tak bisa saya abadikan, karena saya tidak membawa ponsel.


Sekitar satu jam kemudian, saat kegiatan kami sudah hampir selesai, beberapa tetangga dekat mulai berdatangan. Kegiatan memasak mereka ambil alih. Ada yang memasak nasi dengan menggunakan tungku kayu, dan ada yang memasak kuah ikan dan sayur. Saya dan beberapa Ibu-ibu lainnya tetap memilih posisi semula. Mencincang sayuran dan menyiapkan semua bumbu masakan yang kiranya di butuhkan.


Kami semua warga desa saling bahu membahu dalam membantu pihak keluarga yang tertimpa musibah dalam menyiapkan hidangan bagi para tamu yang datang berbelasungkawa. Sayangnya, tak ada lelaki yang datang membantu. Hampir semua kegiatan di lakukan oleh para wanita. Para lelaki hanya kebagian saat mencicipi makanan saja. Kami bahkan tak ada waktu untuk beristirahat, apalagi tamu yang datang juga tiada henti.

IMG_20201027_200613.jpg
foto sisa-sisa tamu yang hadir saat menjelang sore hari


Mendekati jam 1 siang, barulah tamu yang datang untuk berbelasungkawa sedikit berkurang. Satu persatu dari kami juga memiih untuk pulang sebentar untuk sholat dan beristirahat. Tak lupa sebelum pulang, kami di wajibkan untuk makan siang terlebih dahulu. Dan pihak keluarga juga memberikan sedikit "kenduri" untuk kami bawa pulang sebagai ucapan terimakasih atas bantuan yang kami berikan.


Setibanya di rumah, anak-anak sudah makan siang bersama Ayahnya, dan saya segera membersihkan diri dan sholat dhuhur. Saya beristirahat sejenak, untuk mengistirahatkan badan yang letih sambil menemani anak-anak bermain. Jam 3 sore, saya kembali ke rumah duka, untuk bantu-bantu sebisanya. Kali ini saya mendapat jatah angkut mengangkut piring kotor. Saat kami sedang beres-beres, cuaca mulai memburuk. Angin mulai bertiup kencang. Kami segera membereskan hidangan yang tertata rapi di luar rumah agar tidak terkena hujan.

IMG_20201027_200259.jpg
foto martabak yang saya makan saat menjelang malam


Baru saja kami selesai memindahkan hidangan ke tempat yang aman, hujan turun dengan deras. Saya segera pamit pulang ke rumah. Sisa sore harinya, saya isi dengan kegiatan harian di rumah. Mengurus anak-anak dan menyiapkan kebutuhan mereka. Malam harinya, saat anak-anak sudah lelap tertidur, saya kembali lagi ke rumah duka untuk bantu-bantu seadanya. Saya baru pulang ke rumah saat jam menunjukkan pukul 9.30 malam.


Setelah bersih-bersih dan sholat Isya, saya meminta suami untuk membelikan martabak, karena saya merasa kelaparan. Dan akhirnya saya baru menyusul anak-anak untuk beristirahat, setelah menikmati sebungkus martabak sendirian.


Sekian diary saya hari ini, terimakasih untuk teman-teman yang sudah berkunjung ke postingan saya.

More about me click👉 (Here)

Salam @ernaerningsih.


Comments 10


Bu @ernaerningsih, siapa yang meninggal?

27.10.2020 15:43
0

Mertua nya bu Ati, bendahara SMP Tanah Luas bu @safridafatih.

27.10.2020 15:46
0

Innalillahi wainnailaihi raji'un. Mudah-mudahan husnul khatimah bu @ernaerningsih.

27.10.2020 15:58
0

Aamiin

27.10.2020 16:03
0

Thank you for taking part in The Diary Game on Steem.

And thank you for setting your post to 100% Powerup.

Keep following @steemitblog for the latest updates.

The Steemit Team

27.10.2020 21:11
0

Thank you so much for your support

27.10.2020 23:37
0

Innalilahi waiinaillahi Raji'un, semoga amal ibadah beliau diterima disisi Allah SWT..AMIN

28.10.2020 09:32
0

Aamiin.

28.10.2020 09:52
0