Motivation to Write from ANITA |


Anita_02@dok.jpg
Saya dan beberapa penulis ANITA di Jakarta.


SEHARI menjelang ke Belanda untuk riset novel, Jumat 30 Juni 2017 silam, sastrawan Kurnia Effendi menghubungi saya. Kami biasa berteleponan untuk berbagai keperluan. Tentu saja saya yang lebih sering berkepentingan dengan Mas Keff, panggilan akrab Kurnia Effendi.

Untuk kali ini, saya minta tolong Mas Keff untuk membawakan kopian atau softcopy beberapa bagian naskah hikayat Malem Diwa yang belum saya miliki. Pengamat terorisme yang juga dosen Universitas Malikussaleh, Al-Chaidar, mengaku pernah melihat seluruh naskah Malem Diwa di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Di antara semua penulis Anita, dengan Mas Keff saya terbilang sangat akrab. Selain senior, kawan diskusi, Mas Keff sudah saya anggap sebagai guru. Makanya setiap ke Jakarta, saya selalu meneleponnya. Terkadang, kami berjumpa dan berdiskusi dengan para anggota Anita yang lain.

Apa itu Anita?

Anita singkatan dari Asosiasi Penulis Cerita. Anggotanya terdiri dari para penulis yang cerpennya pernah dimuat di majalah remaja Anita Cemerlang, terbit sejak Januari 1978 dan menjadi almarhumah pada 2000. Seluruh penulisnya kemudian sepakat mengorganisir diri dalam Asosiasi Penulis Cerita (Anita) sejak 15 Februari 2010. Tanggal itu dipilih bukan karena berdekatan dengan Valentine Day, tetapi pada tanggal itulah kami berkumpul di sebuah restoran di Jakarta dan mendeklarasikan berdirinya Anita. Ketuanya Kurnia Effendi.

Syarat menjadi anggota Anita harus pernah menulis di majalah Anita Cemerlang atau yang pernah membuat ilustrasi di majalah tersebut. Dengan syarat itu, tentu saja anggota Anita tak mungkin bertambah karena majalahnya sudah tidak terbit lagi.

Meski hanya satu cerpen yang dimuat, sudah memenuhi syarat menjadi anggota Anita. Itulah yang dialami Sujiwo Tejo, mantan wartawan Kompas yang juga pendalang. Saya masih ingat, Sujiwo Tejo mengaku hanya satu kali mengirim cerpen ke Anita Cemerlang atas saran rekannya sesama penulis, Nanik Saiman.

Menurut Mas Keff, jumlah penulis dan ilustrator Anita mencapai 400-an orang yang kini tersebar di berbagai daerah di Indonesia, bahkan sudah banyak yang bermukim di luar negeri. “Bahkan, 90 persen di antaranya masih aktif menulis di berbagai media, meski pekerjaan utamanya bukan penulis,” ungkap Mas Keff.


Kaver Anita@ayijufridar copy.jpg


01.jpg


Bagi remaja tahun 1980-an dan 1990-an di Indonesia, tentunya sangat mengenal majalah Anita Cemerlang yang memuat cerpen dan cerbung remaja. Ciri khasnya, majalah Anita selalu melukis kavernya, bukan dengan foto seperti umumnya majalah yang beredar pada masa itu. Lomba model sampulnya pun, rutin digelar saban tahun dan selalu wajah modelnya dilukis. Para gadis sampul jebolan Anita banyak yang kemudian menjadi artis papan atas, seperti Lola Amaria.

Saya sendiri, terbilang produktif menulis di Anita. Rajin juga mengikuti Lomba Cipta Cerpen Remaja (LCCR) yang digelar saban tahun dan tidak pernah menang meski cerpen saya selalu dimuat karena memenuhi standar pemuatan. Begitu produktifnya saya mengirim cerpen ke Anita sehingga dalam setiap bulan, hampir selalu ada cerpen saya yang dimuat. Belakangan, saya bahkan diminta menulis cerita serial oleh seorang editor Anita, Nanik Raha Kurnia. Selain cerpen, saya juga aktif menulis artikel remaja.

Menjadi penulis Anita masa itu sangat membanggakan karena seleksinya begitu ketat. Ketika memulai, dari sekitar 20 cerpen yang saya kirim, semuanya ditolak. Namun, penolakan di Anita sangat mendidik (calon) penulis, sebab editornya menjelaskan mengapa naskah tersebut ditolak. Barangkali temanya sudah klise, endingnya biasa saja, alur cerita tidak logis, atau gaya penulisan menjemukan. Tak jarang, setiap cerpen ditolak, saya membaca ulang dan memperbaikinya. Kalau memang sreg dengan naskah itu dan yakin sudah memenuhi standar pemuatan, saya kirim ulang. Ada yang dimuat, tetapi banyak juga yang ditolak.

Awalnya, tentu saja saya kecewa kalau ada penolakan. Namun, lama-lama saya menganggap itu bagian dari pembelajaran. Ketika menulis, saya menganggap itu sedang latihan. Kalau dimuat, berarti latihannya dibayar. Kalau ditolak, kita juga tidak rugi apa pun. Latihan untuk mengasah keterampilan, seperti kata pepatah practice make perfect, latihan menciptakan kesempurnaan.

Cerpen pertama dimuat di majalah Anita berjudul “Anak Baru Gede”. Masa itu memang sedang popular istilah ABG. Cerpen itu saya kirim pada 21 Januari 1993.

Namun, cerpen pertama saya yang dimuat di media sesungguhnya bukan di Anita. Majalah Aneka Yess (dulu Aneka Ria) yang memuat cerpen berjudul “Di Antara Pesta Perpisahan” yang saya kirim pada 30 Januari 1992 dan dimuat beberapa bulan kemudian.

Masih segar dalam ingatan saya, sepulang dari Banda Aceh (kalau tak salah mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri saat itu), saya diperlihatkan majalah nomor bukti yang memuat cerpen saja di Aneka oleh Kak Nana, kakak saya. Bahagia sekali waktu itu. Saya anak kampung bisa menembus majalah nasional. Apalagi, saya belajar menulis sendiri masa itu. Tidak ada kawan diskusi, tidak ada tempat bertanya. Kalau mentok menuis, saya membaca berulang-ulang buku Arswendo Atmowiloto, “Mengarang itu Gampang” yang saya kopi dari perpustakaan STM Negeri Bireuen (saya lulus tahun 1991).

Di majalah Anita, ada sebuah cerpen yang dianggap paling bagus paling menarik yang dijadikan sebagai cerita utama. Kalau dimuat sebagai cerita utama, honornya lebih tinggi dan yang juga membanggakan, cerpen kita sudah diumumkan (istilahnya woro-woro) di Anita nomor sebelumnya. Ada sinopsisnya yang membuat pembaca Anita penasaran. Satu lagi yang membanggakan, judul cerita utama dicetak di kaver majalah.

Saya selalu berusaha menulis cerpen untuk jadi cerita utama di Anita. Sulit mengalahkah penulis senior masa itu. Namun, saya tak pernah menyerah sampai akhirnya cerpen “Purnama Merah Darah” terpilih sebagai cerita utama Anita Nomor 560 edisi 28 Oktober – 6 November 1996. Cerpen itu berkisah tentang tenggelamnya KMP Gurita di Perairan Sabang (sudah pernah saya posting di Steemit sebelumnya). Setelah itu, ada beberapa cerpen saya kembali terpilih menjadi cerita utama.


Setelah Anita tidak terbit lagi pada 2000, para penulis tetap menjaga komunikasi. Saya sudah kenal beberapa penulis Anita dari Aceh, seperti Aham Mubary (Abdul Halim Mubary), yang kemudian tinggal di rumah kos sama di Cunda, Lhokseumawe. Selebihnya, saya tidak tahu apakah ada penulis Aceh yang naskahnya pernah dimuat Anita. Satu lainnya yang saya kenal kemudian karena sama-sama menjadi wartawan Serambi, penulis cewek Nani Afrida yang pernah menjadi wartawan surat kabar berbahasa Inggris, The Jakarta Post.

Di asosiasi, kami berbagi berbagai informasi. Ada penulis yang membuat antologi cerpen yang pernah dimuat di Anita, seperti Putra Gara (berdarah Gayo), Pangerang Em di Makassar, Adek Alwi (mantan editor dan sepuh Anita), dan beberapa penulis lain. Saya juga ingin membukukannya terutama cerpen-cerpen berlatar Aceh, tapi belum mendapatkan sponsor.

Kami di Anita masih terus saling berbagi apa pun, saling menyemangati dalam menulis. Seperti kata Mas Keff di suatu hari, kita harus saling menyemangati. Saya juga pernah menulis di status FB, persoalan menulis bukan melulu masalah teknis, tetapi lebih banyak bagaimana menjaga motivasi selalu berada di level atas. Dan itu butuh sahabat untuk berbagi.

Di setiap Ramadhan sebelum pandemi Covid-19, Anita selalu gelar buka puasa bersama. Namun karena Aniters (sebutan untuk penulis Anita), berasal dari berbagai tempat di Indonesia dan luar negeri, hanya beberapa saja yang bisa ikut. Selebihnya, kami menjaga komunikasi dan silaturahim melalui jejaring sosial. Tahun ini mungkin hanya bisa dilakukan dalam kapasitas yang lebih kecil.

Demikian sekelumit kisah tentang Aniters yang saya kombinasikan dengan sedikit pengalaman pribadi dalam menulis. Semoga ada bagian yang bermanfaat bagi Steemians. Terima kasih sudah membacanya.[]


Workshop_01.jpg


Comments 0