Perlukah Memahami Gaya Hidup Pasangan?


Memiliki life style yang berbeda dengan pasangan terkadang menggemaskan ya. Salah satunya, kebiasaan ketika menghadiri acara pernikahan atau walimatul’ursy. Bagi wanita terkadang menghadiri kondangan itu gak gampang, alias disusah susahin, sih. ups! Hehe.

Sehari sebelum tanggal acara tiba, biasanya wanita telah mengobrak abrik lemari mencari outfit apa yang akan dikenakan. Yah, gak muluk-muluk mencari pakaian terindah atau termahal, pengecekan biasanya dilakukan hanya untuk memastikan bahwa baju yang ingin dipakai sudah distrika, atau untuk tidak kekecilan karena badan sudah mulai bengkak.

Terlepas dari itu semua, ada istri yang seringkali pengennya kondangan pakai baju couple-an sama pasangan, walau terkadang couplean-nya itu sedikit memaksakan, yang penting ada satu bagian warna aja yang sama, udah deh anggap aja baju couple,hihi.
Nah, selamat lah jika ketemu suami yang punya tipe sebaliknya. Mau kondangan, siap-siap, mandi, abis mandi buka lemari, lirik baju apa yang ada di lemari, pilih salah satu, pakai, selesai. Langsung cuus kondangan. Bahagia dan lempeng banget hidupnya ya....

Tapi tidak sedikit pula, setelah beberapa tahun hidup bersama dan memahami satu sama lain, ciee. suami sudah mulai memperhatikan pakaian sebelum kondangan gegara kelihaian persuasif sang istri.

“Abi pakai baju apa hari ini Mi?”

Mata istri berbinar, senang di tanyain begituan. Padahal dari semalam memang udah disiapin tuh baju apa untuk suami, Cuma kagak dibilang ajah.

“Ini ya Bi, kita sarimbitaaan,” sambil kasi baju yang sudah rapi dan wangi.

Suami juga anteng aja, apapun yang dipilih istri baginya itulah pilihan terbaik. Lalu dia pakai baju, sisir rambut, minyak wangi, rapi, panasin mobil, langsung tunggu di mobil, istrinya masih jilbaban, ya ampuun.

Harap maklum ya, Istri sebelum bepergian itu, mikirnya 3 hal, kelengkapan sendiri, suami, dan anak. Jadi maklum ajaa, dia yang paling cepat mulai, tapi paling terakhir selesainya.

Jadi ceritanya, pernah suatu waktu kami pergi kondangan lumayan jauh, kabupaten sebelah.
Perjalanan sekitar 3 jam, nyampe lokasi baru kelihatan, Oh my God! Saya lupa ngecek sampe bawah, sandal yang di pakai suami buat saya gemes. Dari atas udah rapi merapi, harusnya bawahan pakai sepatu kek atau minimal pilih sandal yang hitamnya pekat lalu di sikat biar kinclong, atau pakai sandal elegan. Ini ekspektasi saya ya. Dan kita tidak harus mengikuti idealisme kita ya. Hehe

So, Just keep calm, bawa PD aja jalan disamping si Doi, sambil komat komat nyalahin diri, kok tadi saya lupa ngecek bawahan sepatu, de el el. Trus sempat saya becandai juga, maunya pak kaprodi pakai sepatu lah biar wibawa. Suami Cuma angguk – angguk, senyam senyum. Dia biasa aja , kenapa juga gue yang repot ya.. haha

Sampai akhirnya, suami ketemu teman-teman lamanya. Karena sebenarnya misi datang kondangan adalah, betemu teman-teman nya yang dulunya kuliah di Tunisia. Sang pengantin juga alumni Zaitunah University, Tunisia.

Saya mengambil posisi di tempat makan wanita yang terpisah dengan laki-laki. Selesai mencicipi hidangan, suami ajak keluar minum air kelapa muda di pinggir pantai bareng teman-teman Tunisia-nya. Hayuuk saya mah ikut aja. Ketika berjalan dengan rombongan mereka, saya kaget, bahkan ada temannya suami yang pakai sendal jepit, dan jabatannya itu udah wakil rektor di sebuah universitas.

Pribadi-pribadi seperti ini menyadarkan saya bahwa, hidup itu jangan pakai standar orang, jangan gengsian karena jabatan, dan menjadi diri sendiri selama itu tidak melanggar ajaran agama akan membuat kita nyaman.

Maka untuk istri-istri, jangan terlalu memaksakan keinginan kita harus didengarkan oleh suami, hal-hal yang menurut kita nyaman tidak selamanya juga dirasakan oleh suami. Suami sudah mau mengikuti beberapa gaya kita, nah saatnya kita juga biarkan dia menurut gayanya. Tidak perlu mendadaninya sampai mati gaya, namun jika dia nyaman, silahkan ;)

Para Suami juga seperti itu, bahagia bukan terletak pada tampilan luar, jangan karena istri tidak fashionable, tidak make-up-an, maka kita malu mengajaknya ke kondangan, kita malu memperkenalkan istri kepada teman-teman kita. Padahal dialah yang selama ini mendukung dan menyemangati kita.

human #islam #indonesia #aceh


Comments 6